UPAYA MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN ROLL DEPAN SENAM LANTAI MENGGUNAKAN ALAT BANTU PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SUMBEREJO 2 JATISRONO WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Diposkan oleh Dian Setiaji



UPAYA MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN ROLL DEPAN SENAM LANTAI MENGGUNAKAN ALAT BANTU PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SUMBEREJO 2 JATISRONO WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2011/2012





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian dari pendidikan secara keseluruhan,bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung
seumur hidup, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang di ajarkan di
sekolah memiliki peranan sangat penting yaitu memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui
aktivitas jasmani,olahraga dan kesehatan yang terpilih dan dilakukan secara
sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina
pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk
pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Pendidikan jasmani olahraga dan
kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan
psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai
(sikap,mental,emosional,sportivitas,spiritual,sosial), serta pembiasaan pola hidup
sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas
fisik dan psikis yang seimbang. Seperti hal nya Aip Syarifuddin dan Muhadi
(1991:7) menyatakan bahwa, “Melalui pendidikan jasmani anak didik akan
memperoleh berbagai pengalaman terutama yang sangat erat kaitannya dengan kesan pribadi yang menyenangkan,berbagai ungkapan yang kreatif, inofatif, keterampilan gerak,kebugaran jasmani, membiasakan hidup sehat, pengetahuan dan pemahaman terhadap sesama manusia.”
Berdasarkan jenis materi pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan
dikelompokan menjadi dua yaitu : materi pokok dan materi pilihan. Materi pokok



2


merupakan materi yang wajib diberikan kepada siswa yang mencakup atletik, senam dan permainan. Sedangkan materi pilihan merupakan materi yang dapat dipilih dengan kemampuan dan situasi serta kondisi sekolah masing-masing.
Senam adalah suatu cabang olahraga yang membutuhkan kelentukan dan
koordinasi yang baik antara anggota tubuh. Senam sendiri terdiri dari 3 macam,yaitu
: senam dasar, senam ketangkasan dan senam irama. Senam ketangkasan dapat
dilakukan tanpa alat dan dengan alat. Senam ketangkasan yang dilakukan tanpa alat
dinamakan senam lantai, sedangkan senam ketangkasan dengan menggunakan alat
dinamakan senam alat. Di dalam senam lantai terdapat bermacam-macam bentuk
gerakan,baik yg dilakukan dengan lentingan dan putaran badan, maupun bentuk
sikap keseimbangan. Sedangkan mudah atau sukarnya melakukan bentuk-bentuk
gerakan tersebut tergantung dari besar kecilnya unsur-unsur yang terdapat dalam
bentuk gerakannya, misalnya seperti : kelemasan, ketepatan, keseimbangan, dan
ketangkasan dari yang melakukannya. Senam lantai merupakan cabang olahraga
yang kurang begitu populer di masyarakat, sehingga kurang begitu diminati pula
oleh anak-anak sekolah dalam pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan di sekolah. Gerakan dalam senam lantai membutuhkan keberanian,
kelentukan tubuh serta teknik yang benar, di samping itu olahraga ini sangat
membosankan bagi anak sekolah khususnya SD karena anak usia Sekolah Dasar
sangat menyukai olahraga yang mengandung permainan dibanding senam lantai. Di
lain pihak melalui hasil pengamatan dan observasi siswa dalam pembelajaran senam
lantai di SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri sudah berjalan, tapi belum
menunjukan hasil yang maksimal, tidak semua siswa dapat menguasai gerakan
Senam Lantai terutama roll depan dengan baik dan benar, disamping itu para
siswa tidak berani melakukannya karena takut. Rendahnya kemampuan siswa
menunjukan adanya kelemahan sekaligus kesulitan belajar mengajar roll depan.
Dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP 2009 : 3) salah satunya
disebutkan bahwa “Misi pendidikan adalah melaksanakan pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM)”. Sehubungan dengan isi dari KTSP
2009 tersebut maka perlunya membuat pembelajaran senam lantai terutama roll
depan yang berbentuk PAIKEM untuk meningkatkan kemampuan roll depan,
sehingga membuat proses pembelajaran roll depan menjadi menarik sehingga



3


para siswa termotifasi dan bersemangat melakukan pembelajaran, salah satunya
penyediaan fasilitas dengan memberi alat bantu yang dimodifikasi sedemikian rupa
agar menarik dan memudahkan siswa. Hal ini serupa yang dikatakan oleh Sugiyanto
(2000 : 56) bahwa, “Suatu penguasaan gerak keterampilan terjadi secara bertahap
dalam peningkatannya, mulai dari belum bisa menjadi bisa, dan kemudian menjadi
terampil. Dengan demikian hendaknya pengaturan materi belajar yang dipraktekan
dimulai dari yang mudah ke yang sukar atau dari yang sederhana ke yang komplek”.
Dari permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka perlu dilakukan penelitian yang melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Upaya Mengoptimalkan Kemampuan Roll Depan Senam Lantai Menggunakan Alat Bantu Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri Tahun Pelajaran 2011/2012”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
Bagaimana penggunaan alat bantu berpengaruh terhadap hasil belajar roll Depan senam lantai?


C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui:
Peningkatan penggunaan alat bantu terhadap hasil belajar roll depan senam lantai siswa SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri.


D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat antara lain:
1. Dapat meningkatkan kemampuan roll depan senam lantai siswa Sumberejo II Jatisrono Wonogiri.



4


2. Sebagai masukan untuk dijadikan pedoman guru Penjasorkes SD Sumberejo II Jatisrono Wonogiri akan pentingnya penggunaan alat bantu dalam
meningkatkan kemampuan dan menunjang prestasi roll Depan senam lantai.
3. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penelitian tentang karya ilmiah
untuk dapat dikembangkan lebih lanjut.



5




BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Tinjauan Pustaka


1. Pembelajaran

a. Hakikat Pembelajaran
Istilah pembelajaran sama dengan instructiaon atau pengajaran. Menurut
Purwadinata 1976 yang dikutip H.J. Gino, Suwarni, Suripto, Maryanto dan Sutijan
(1998 : 30) bahwa,”Pengajaran mempunyai arti cara (perbuatan) mengajar atau
mengajarkan”. Hal senada dikemukakan Wina Sanjaya (2006 : 73-74)
bahwa,”Mengajar diartikan sebagai penyampaian informasi atau pengetahuan dari
guru kepada siswa”. Pengajaran diartikan perbuatan mengajar tentu ada yang
mengajar yaitu guru dan ada yang diajar atau yang belajar yaitu siswa. Dengan
demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar oleh siswa mengajar
oleh guru.
Mengajar merupakan suatu aktifitas yang kompleks. Tujuan utamanya ialah
agar terjadi aktifitas belajar pada siswa, dan tanggung jawab utama dari pihak guru
yaitu mengarahkan dan memperlancar proses belajar mengajar. Kadang-kadang
proses belajar mengajar itu mengalami kelambanan seperti tercermin pada grafik
kemajuan belajar. Dalam situasi demikian, guru yang bersangkutan bertanggung
jawab untuk melakukan penyesuaian kembali pengalaman belajar yang cocok bagi
para siswanya berdasarkan prinsip-prinsip paedagogis, tujuan yang ingin dicapai,
pengetahuannya tentang keadaan siswa, bahkan juga isi pelajaran dan kelangsungan
proses belajar mengajar itu sendiri. Kegiatan mengajar selalu terikat lamgsung
dengan tujuan yang jelas. Ini berarti proses mengajar itu tidak begitu bermakna jika
tujuan nya tidak jelas. Jika tujuan tidak jelas, maka isi pengajaran berikut metode
mengajar juga tidak mengandung makna apa-apa. Oleh karena itu, seorang guru
harus menyadari benar-benar keterkaitan antara tujuan, pengalaman belajar, metode,
dan bahkan cara mengukur perubahan atau kemajuan yang dicapai.



6


Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam proses yang telah ditetapkan dalam proses mengajar, maka seorang guru harus mampu menerapkan cara mengajar cocok untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Seorang guru harus memiliki ide atau cara mengajar yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada, agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.
Mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang yang memiliki
pengetahuan atau keterampilan yang lebih dari pada yang diajar, untuk memberikan
suatu pengertian, kecakapan, atau ketangkasan. Kegiatan mengajar meliputi
penyampaian pengetahuan, menularkan sikap, kecakapan atau keterampilan yang
diatur sesuai dengan lingkungan dan menghubungkannya dengan lingkungan dan
menghubungkannya dengan subyek yang sedang belajar. Hal ini sesuai dengan
kompetensi yang harus dimiliki seorang guru yang dikemukakan Nana Sudjana
(2005 : 19) bahwa :
Untuk keperluan analisis tugas guru sebagai pengajar, maka kemampuan guru atau kompetensi guru yang banyak hubungannya dengan usaha meningkatkan proses dan hasil belajar dapat diguguskan ke dalam empat kemampuan, yakni:
1. Merencanakan program belajar mengajar.
2. Melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengajar.
3. Menilai kemajuan proses belajar mengajar.
4. Menguasai bahan pelajaran dalam pengertian menguasai bidang studi
atau mata pelajaran yang dipegangnya/dibinanya.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukan, mengajar merupakan suatu
kegiatan yang didalamnya terdapat beberapa komponen yang sangat kompleks.
Dalam kegiatan pengajaran guru bertugas merencanakan program pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai kemajuan pembelajaran dan menguasai materi
atau bahan yang diajarkannya, maka akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Hasil
belajar dapat dicapai dengan baik, jika seseorang guru mampu melaksanakan tugas
diantaranya mengelola proses pengajaran berupa aktifitas merencanakan dan
mengorganisasi semua aspek kegiatan. Husdarta & Yudah M. Saputra (2000 : 4)
bahwa :
Tugas utama guru adalah untuk menciptakan iklim atau atmosfir supaya
proses belajar terjadi di kelas atau lapangan. Cirri utama terjadinya proses
belajar adalah siswa dapat secara aktif ikut terlibat di dalam proses
pembelajaran. Para guru harus selalu berupaya agar para siswa dimotifasi



7




untuk lebih berperan. Walau demikian guru tetap berfungsi sebagai pengelola proses belajar dan pembelajaran.
Pengaturan pembelajaran bertujuan agar siswa terlihat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Seseorang guru harus mampu menerapkan cara mengajar yang efektif. Untuk itu seorang guru harus memiliki beberapa kemampuan dalam menyampaikan tugas ajar agar tujuan pengajaran dapat berhasil. Hal yang terpenting dan harus diperhatikan dalam mengajar yaitu, guru harus mampu menerapkan metode mengajar yang tepat dan mampu membelajarkan siswa menjadi aktif melaksanakan tugas ajar yang diberikan.

b. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar keterampilan olahraga dibutuhkan cara
mengajar yang baik dan tepat. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan tepat,
maka akan terjadi perubahan-perubahan kearah yang lebih baik pada diri siswa.
Menurut Nasution yang dikutip H.J Gino dkk (1998 : 51) bahwa,”Perubahan akibat
belajar tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk
kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri, pendeknya
mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang”. Perubahan akibat dari
belajar adalah menyeluruh pada diri siswa. Untuk mencapai perubahan atau
peningkatan pada diri siswa, maka dalam proses pembelajaran harus diterapkan
prinsip-prinsip pembelajaran yang tepat. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006 : 42)
bahwa,”Prinsip-prinsi pembelajaran meliputi perhatian dan motivasi, keaktifan
siswa, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan serta
perbedaan individu”.
Prinsip-prinsip pembelajaran meliputi tujuh aspek yaitu : perhatian dan
motivasi, keterlibatan langsung atau berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan serta perbedaan individu. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, maka prinsip-prinsip pembelajaran tersebut harus di terapkan dalam pembelajaran dengan baik dan benar. Untuk lebih jelasnya prinsip-prinsip pembelajaran tersebut akan di uraikan secara singkat sebagai berikut :



8




1) Perhatian dan Motivasi Belajar
Siswa merupakan objek dalam kegiatan pembelajaran. Keberhasilan siswa dalam menyerap ilmu alau keterampilan dipengaruhi oleh tingkat perhatian siswa, Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. H. J Gino dkk ( 1998 : 52 ) menyatakan," Perhatian siswa waktu belajar akan sangat mempengaruhi hasil belajar. Belajar dengan penuh perhatian (konsentrasi) pada materi akan lebih terkesan lebih mendalam dan tahan lama pada ingatan".
Perhatian mempunyai peran pernting untuk mencapai hasil belajar yang
optimal. Apabila pelajaran yang di terima siswa dirasakan sebagai kebutuhan, maka
akan membangkitkan motivasi siswa untuk mempelajarinya. Sedangkan yang di
maksud motivasi menurut Dimyati dan Mudjiono (2006. 42) adalah." Tenaga yang
menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang". Dengan motivasi belajar yang
tinggi, maka siswa akan lebih bersemangat dalam belajar. Belajar yang dilakukan
dengan penuh semangat akan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

2) Keaktifan Siswa
Dalam kegiatan pembelajaran siswa di tuntut harus selalu aktif dalam
mengikuti proses pembelajaran. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan
belajarnya secara efektif siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan
emosional. Tanpa adanya keaktifan dari siswa, maka tidak akan teradi proses
belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat HJ Gino dkk. (1998: 5) bahwa, " Dari semua
unsur belajar, boleh dikatakan keaktifan siswalah prisnsip yang terpenting, kerana
belajar sendiri merupakan suatu kegiatan. Tanpa adanya kegiatan tidak mungkin
seorang belajar".
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran bermacam-macam bentuknya.
Hal ini sesuai dengan jenis atau masalah yang dipelajari siswa. Menurut S. Nasution
(1988 : 93) yang dikutip HJ Gino dkk. (1998: 52-53 ) macam-macam keaktifan
belajar siswa antara lain : " Visual Activities, Oral Activities, Listening Activities,
Drawing Activities, Motor Activities, Mental Activities, Emosional Activities ".
Keaktifan-keaktifan siswa dalam proses pembelajaran tersebut tidak terpisah satu
dengan lainnya. Misalkan dalam keaktifan motoris terkandung keaktifan mental dan



9


disertai oleh perasaan tertentu. Dalam setiap pelajaran dapat dilakukan bermacammacam keaktifan.

3) Keterlibatan Langsung Siswa
Belajar adalah suatu proses yang terjadi dalam diri siswa. Dalam proses belajar sangat komplek. Belajar adalah sualu proses yang sangat memungkinkan organ-organ siswa mengubah tingkah lakunya sebagai hasil pengalaman yang diperolehnya. Dapat di katakana bahwa, belajar merupakan hasil pengalaman, sebab pengalaman-pengalaman yang diperoleh itulah yang menetukan kualitas perubahan tingkah laku siswa. Jadi peristiwa belajar terjadi apabila terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa.
Belajar adalah tanggung jawab masing-masing siswa, sebab hasil belajar adalah hasil dari pengalaman yang diperoleh sendiri, bukan pengalaman yang di dapat oleh orang lain. Oleh karena itu, kualitas hasil belajar berbeda-beda antara siswa satu dengan siswa lainya tergantung pada pengalaman yang diperoleh dan kondisi serta kemampuan siswa.

4) Pengulangan Belajar
Salah satu prinsip belajar adalah melakukan pengulangan. Dengan
melakukan pengulangan yang banyak, maka suatu keterampilan atau pengetahuan
akan dikuasai dengan baik. Menurut Davics (1987:32) yang dikutip dari Dimyati
dan Mudjiono (2006:52) bahwa, " Penguasaan secara penuh dari setiap langkah
memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti. Dari pernyataan inilah
pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran". Sedangkan
Suharno.H.P. (1993:22) berpendapat, "Untuk mengotomatisasikan penguasaan unsur
gerak fisik, tehnik, taktik, dan keterampilan yang benar atlet harus melakukun
latihan berulang-ulang dengan sebanyak-banyaknya secara kontinyu". Mengulang
materi pelajaran atau keterampilan adalah sangat penting. Dengan melakukan
pengulangan gerakan secara terus-menerus, maka gerakan keterampilan dapat
dikuasai dengan secara otomatis. Suatu keterampilan yang dikuasai dengan baik,
maka gerakan yang dilakukan lebih efektif dan efisien.



10




5) Tantangan
Tantangan merupakan salah satu bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan adanya tantangan maka akan memotivasi untuk memecahkan permasalahan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat HJ Gino dkk (1998:5) bahwa," Materi yang dipelajari oleh siswa harus mempunyai sifat merangsang atau menantang. Artinya, materi tersebut mengandung banyak masalah-masalah yang merangang untuk di pecahkan. Apabila siswa dapat mengatasi masalah yang di hadapinya, maka ai akan mendapatkan kepuasan".
Memberikan tantangan dalam dalam proses belajar mengajar adalah sangat
penting. Dengan adanya tantangan yang harus di hadapi atau di pecahkan siswa
dalam belajar masalah tersebut. Jika siswa mampu memecahkan masalah yang
dipelajari, maka siswa akan memperoleh kepuasan dan meneapai hasil belajar yang
optimal.

6) Balikan dan Penguatan
Pemberian balikan pada umumnya memberi nilai positif dalam diri siswa, yaitu mendorong siswa untuk memperbaiki tingkah lakunya dan meningkatkan usaha belajarnya. Tingkah laku dan usaha belajar serta penampilan siswa yang baik, di beri balikan dalam bentuk senyuman ataupun kata-kata pujian yang merupakan penguatan terhadap tingkah laku dan penampilan siswa.
Penguatan (Reinforcement) adalah respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Memberi penguatan dalam kegiatan belajar kelihatannya sederhana sekali, yaitu tanda persetujuan guru terhadap tingkah laku siswa. Namun demikian, penguatan ini sangat besar manfaatnya terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

7) Perbedaan Individu
Setiap individu mempunyai karateristik sendiri-sendiri yang berbeda satu
dengan lainya. Karena hal inilah, setiap siswa belajar sesuai dengan tempo atau
kemampuan masing-masing. Kesadaran bahwa dirinnya berbeda dengan siswa lain
akan membantu siswa menentukan cara belajar serta sasaran belajar bagi dirinya
sendiri. Manfaat pembelajaran akan lebih berarti jika proses pembelajaran yang



11


diterapkan, direneanakan dan dilaksanakan berdasarkan karakteristik dan kondisi masing-masing siswa. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, maka guru harus memperhatikan perbedaan setiap individu dan dalam membelajarkannya harus sesuai dengan kemanpuan masing-masing individu.
Pendapat lain dikemukakan Wina Sanjaya (2006:30-31) bahwa ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran di antaranya:
a). Berpusat kepada siswa,
b). Belajar dengan melakukan
c). Mengembangkan kemampuan sosial
d). Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah.
e). Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
f). Mengembangkan kreativitas siswa.
g). Mengembangkan kemampuan ilmu dan teknologi
h). Menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik
i). Belajar sepanjang hayat.
Prinsip-prinsip pembelajaran sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang
guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang didasarkan
pada prinsip-prinsip belajar yang benar, maka akan diperoleh hasil belajar yang
optimal.

c. Ciri-Ciri Perubahan dari Belajar
Tujuan utama dalam proses belajar mengajar yaitu terjadi perubahan yang lebih baik pada diri siswa. Sebagai contoh pada awalnya siswa tidak mampu melakukan Roll Depan, setelah melalui proses belajar dan latihan maka siswa mampu malakukan Roll depan.
Prinsip perubahan pada siswa dari belajar suatu keterampilan bersifat permanent. Hasil belajar bersifat permanent artinya, keterampilan yang telah dikuasai siswa tidak mudah hilang sesudah kegiatan selesai dilakukan atau dalam waktu tertentu. Tetapi jika tidak belajar lagi (latihan secara rutin) kemampuan atau keterampilan yang telah dikuasai akan menurun. Menurut Sehmidt (1982) yang dikutip dari Rusli Lutan (1988:102-107) bahwa, karakteristik dari belajar gerak adalah sebagai berikut:
1) Belajar sebagai sebuah proses
2) Belajar Motorik adalah hasil langsung dari latihan



12




3) Belajar motorik tak teramati secara langsung
4) Belajar menghasilkan kapasitas untuk bereaksi (kebiasaan)
5) Belajar motorik relative permanent
6) Belajar motorik bisa menimbulkan efek negatif dan
7) Kurva hasil belajar
Pendapat tersebut menunjukan bahwa, ciri-ciri perubahan dari belajar gerak
atau keterampilan ada tujuh macam. Dengan belajar secara sistematis dan kontinyu, maka dalam diri siswa akan terjadi peruhahan-perubahan seperti di atas. Untuk lebih jelasnya secara singkat akan diuraikan sebagai berikut :

1) Belajar Secara Proses.
Belajar sebagai proses yang dimaksud yaitu, di dalam diri siswa terlibat suatu proses yang menyumbang kepada perubahan dalam perilaku motorik sebagai hasil dari belajar atau berlatih dalam organisme yang memungkinkannya untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan sebelum belajar atau berlatih. Proses perubahan yang terjadi akibat dari belajar harus di sadari oleh siswa, sehingga siswa dapat merasakan bahwa dirinya telah mencapai peningkatan keterampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang dikemukakan oleh Slameto (1995:3) bahwa, "Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan atau sekurangkurangnya merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan pada dirinya". Dengan kemampuan siswa menyadari akan perubahan yang terjadi dalam dirinya, ini artinya telah terjadi proses belajar gerak dalam diri siswa. Dengan terjadinya proses belajar maka akan di capai hasil belajar yang lebih baik.

2) Belajar Motorik adalah Hasil Langsung dari Latihan
Perubahan perilaku motorik berupa keterampilan di pahami sebagai hasil dari
latihan dan pengalaman. Hal ini perlu di pertegas untuk membedakan perubahan
yang terjadi karena faktor kematangan dan pertumbuhan. Faktor-faktor tersebut juga
menyebabkan perubahan perilaku (seperti anak yang dewasa lebih terampil
melakukan suatu keterampilan yang baru daripada anak yang muda), meskipun
dapat disimpulkan perubahan itu karena belajar. Sugiyanto dan Agus Kristiyanto
(1998:33) menyatakan bahwa," Perubahan-perubahan hasil belajar gerak sebenarnya



13


bukan murni dari hasil suatu pengkondisian proses belajar, melainkan wujud interaksi antara kondisi belajar dengan faktor-faktor perkembangan individu".
Perubahan kemampuan individu dalam penguasaan gerak ditentukan oleh
adanya interaksi yang rumit antara faktor keturunan dan pengaruh Lingkungan. Perkembangan individu berproses sebagai akibat adanya perubahan anatomisfisiologis yang mengarah pada status kematangan. Pertumbuhan fisik yang menunjukkan pada pembesaran ukuran tubuh dan bagian-bagiannya, terkait dengan perubahan-perubahan fungsi faal dan system lain dalam tubuh. Pola-pola perubahan tersebut pada gilirannya akan selalu mewarnai pola penguasaan gerak, sebagai perubahan hasil proses belajar gerak.

3) Belajar Motorik Tak Teramati Secara Langsung
Belajar motorik atau keterampilan olahraga tidak teramati sejara langsung. Proses yang terjadi di balik perubahan keterampilan sangat kompleks dalam system persyaratan, seperti misalnya bagaimana informasi sensori di proses, diorganisasi dan kemudian di ubah menjadi pola gerak otot-otot. Perubahan itu semuanya tidak dapat diamati secara langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan eksistensinya dari perubahan yang terjadi dalam keterampilan atau perilaku motorik.

4) Belajar Menghasilkan Kapabilitas untuk Bereaksi (Kebiasaan )
Perubahan belajar motorik juga dapat ditinjau dari munculnya kapabilitas
untuk melakukan suatu tugas dengan terampil. Kemampuan tersebut dapat dipahami
sebagai suatu perubahan dalam system pusat syaraf. Tujuan belajar atau latihan
adalah untuk memperkuat dan memantapkan jumlah perubahan yang terdapat pada
kondisi internal. Kondisi internal ini sering disebut kebiasaan. Menurut Rusli Lutan
(1998:104) kapabilitas ini penting maknanya karena berimplikasi pada keadaan
yaitu," jika telah tercipta kebiasaan dan kebiasaan itu kuat, keterampilan dapat di
peragakan jika terdapat kondisi yang mendukung, tetapi jika kondisi tidak
mendukung (lelah) keterampilan yang di maksud tidak dapat dilakukan".



14




5) Belajar Motorik Relatif Permanen
Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk
beberapa saat saja, seperti berkeringat, lelah atau lain sebagainya, tidak dapat
digolongkan sebagaia perubahan akibat belajar. Perubahan yang terjadi akibat proses
belajar bersifat menetap atau permanent. Hasil belajar gerak relative bertahan hingga
waktu relative lama. Sebagai contoh, kemampuan siswa melakukan lempar lembing,
gaya jengket tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan semakin berkembang
jika terus dipergunakan atau berlatih secara teratur. Memang sukar untuk menjawab,
berapa lama hasil belajar itu akan melekat. Meskipun sukar ditetapkan secara
kuantitatif, apakah selama satu bulan, bertahun-tahun atau hanya dua atau tiga hari
saja. Untuk kebutuhan analisis dapat ditegaskan bahwa, belajar akan menghasilkan
beberapa efek yang melekat pada diri siswa setelah melakukan belajar gerak.

6) Belajar Motorik Bisa Menimbulkan Efek Negatif
Dilihat hasil yang dicapai dari belajar gerak menunjukkan bahwa, belajar
dapat menimbulkan efek positif yaitu penyempurnaan keterampilan atau penampilan
gerak seseorang. Namun disisi lain, belejar dapat menimbulkan efek negatif. Sebagai
contoh, seorang pesenam belajar gerakan salto kebelakang. Pada suatu ketika
lompatannya kurang tinggi dan putaran badannya terlampau banyak sehingga jatuh
terlentang. Akibatnya dia mengalami rasa sakit pada punggungnya dan
menyebabkan tidak berani lagi untuk melakukan gerakan salto kebelakang. Rasa
takut ini mungkin berlangsung beberapa lama, sampai kemudian keberaniannya
muncul kembali. Contoh semacam dapat dipakai sebagai ilustrasi gejala
kemunduran suatu keterampilan sebagai rangkaian akibat kegiatan belajar pada
waktu sebelumnya.
Kesan buruk terhadap pengalaman masa lampau, kegagalan pahit dalam
suatu kegiatan atau tidak berhasil melakukan suatu jenis ketelampilan dengan
sempurna justru bukan berakibat negative, tetapi hendaknya di jadikan pendorong
kearah perubahan yang positif. Pengalaman semacam ini hendaknya menjadi
pendorong untuk lebih giat belajar hingga mencapai hasil yang lebih baik.



15




7) Kurva Hasil Belajar
Salahsatu persoalan yang paling rumit dalam proses belajar gerak yaitu
tentang penggambaran perkembangan hasil belajar dan kecermatan dalam hal hasil
penafsiran. Kurva hasil belajar merupakan gambaran penguasaan kapabilitas untuk
bereaksi (yaitu kebiasaan) dalam satu jenis tugas setelah dilakukan berulang-ulang.
Kurva hasil belajar ini biasanya dibuat grafik, dimana grafik tersebut menampilkan
perkembangan penampilan kemampuan gerak sebagai cerminan dari proses belajar
internal yang berlangsung dalam diri seseorang. Meskipun kurva belajar tidak
mampu sepenuhnya mencerminkan perubahan internal pada diri seseorang, tetapi
untuk kebutuhan praktis atas dasar penampilan nyata dapat ditafsirkan kemajuan,
kemandegan atau kemunduran hasil belajar hasil belajar yang di capai pada suatu
waktu.

d. Penilaian Hasil Belajar
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang bertujuan untuk
mencerdaskan siswa. Hal ini maksudnya, akhir dari belajar mengajar akan diperoleh
hasil belajar yaitu terjadinya perubahan pada diri siswa. Seperti yang dikemukakan
oleh Suharno dkk. (1998:78) "evaluasi hasil belajar adalah untuk mengetahui
sebarapa jauh tujuan belajar dapat dicapai ". Hasil belajar dapat diketahui apabila dilakukan evaluasi atau penilaian. Melalui penilaian akan diketahui apakah materi yang diberikan dapat di kuasai dengan baik ataukah sebaliknya. Berkaitan dengan penilaian Nana Sudjana (2005:111) menyatakan,
Penilain atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Hasil belajar yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar.
Pendaput tersebut menunjukkan bahwa, penilaian merupakan suatu bentuk
hasil belajar yang didasarkan pada kriteria tertentu. Melalui penilaian tersebut akan
diketahui sejauh mana hasil belajar yang dicapai siswa. Lebih lanjut Nana Sudjana
(2005:111) menyatakan penilaian yang dilakukan terhadap proses belajar mengajar
memiliki fungsi yaitu : " 1.) Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran,



16


2.) Untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru".
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukan bahwa, hasil belajar yang dicapai
oleh siswa menggambarkan cerminan dari guru dan siswa. Hal ini maksudnya, hasil
belajar yang dicapai siswa menandakan siswa dapat menguasai materi yang
diterimanya. Sedangkan bagi guru, hasil belajar yang dicapai siswa dapat diketahui
tujuan pengajaran tercapai atau tidak atau efektif tidaknya pengajaran yang telah
dilakukan. Untuk itu penilaian sangat penting dalam proses belajar mengajar.
Oleh karenanya, metode mengajar yabg baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. Seperti diungkapkan dalam Penelitian Sunardi dalam Jurnal Penelitian Pendidikan (2002 : 366) bahwa,
Secara umum dapat dilihat bahwa metode mengajar dapat mengarahkan
perhatian siswa terhadap hakikat belajar yang spesifik, membangkitkan
motivasi untuk belajar, memberikan umpan balik dengan segera,
memberikan kesempatan bagi siswa untuk maju sesuai dengan kemampuan
dan kecepatannya sendiri, dapat mengembangkan dan membina sikap positif
terhadap diri sendiri, guru, materi pembelajarn serta proses pendidikan pada
umumnya.
Pendapat tersebut menunjukan, penerapan metode mengajar dengan
menggunakan alat bantu misalnya, yang dilakukan guru akan mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan metode mengajar yang tepat akan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga akan mendukung pencapaian hasil belajar lebih optimal.

2.Senam


a. Pengertian Senam
Istilah senam merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu: Gymnastic
atau bahasa Yunaninya (Greek) adalah Gymnos yang artinya telanjang: karena pada
waktu itu (zaman kuno) melakukan senam dengan badan telanjang atau setengah
telanjang. Sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia bersenam adalah
menggeliat atau meregang-regang anggota badan sehabis tidur. Sedangkan Imam
Hidayat (1995) berpendapat, “Senam adalah suatu latihan tubuh yang dipilih dan
dikontruksikan secara sengaja, dilakukan secara sadar dan berencana, disusun secara



17


sistematis dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani, mengembangkan keterampilan dan menambah nilai-nilai mental spiritual”, dan Peter H. Werner (1994) berpendapat, “Senam merupakan bentuk latihan tubuh pada lantai atau alat yang dirancang untuk meningkatkan daya tahan, kekuatan, kelincahan, koordinasi serta kontrol tubuh”.
Dengan semakin maju dan berkembangnya i1mu dan teknologi dewasa ini,
maka senam yang merupakan salah satu cabang olah raga pun turut maju dan
berkembang dengan pesatnya hingga bermunculan istilah-istilah senam. Akan tetapi
apa yang dilakukan oleh orang-orang mengenai senam tersebut, seperti meregang-
regang otot badan, memutar lengan, Senam Pagi Indonesia (SPI) dan Senam
Kesegaran Jasmani (SKJ), baru merupakan sebagian dari arti senam. Bentuk-bentuk
gerakan senam tersebut merupakan salah salu unsur dari gerakan senam yang sama
artinya dengan Calesthenic. Demikian juga bila kita melihat gerakan jungkir-balik,
melenting, berputar, ini pun baru merupakan bagian dari arti senam yang
sebenarnya. Bentuk-bentuk gerakan tersebut sering kita kenal dengan istilah
tumbling.
Calesthen adalah bentuk-bentuk gerakan senam yang bertujuan
memperindah tubuh, dengan melalui latihan kekuatan yang biasanya dilakukan
tanpa alat. Namun dengan perkembangan zaman serta kemajuan i1mu dan teknologi
dewasa ini, calesthenic digunakan sebagai alat untuk membina dan meningkatkan
kesegaran jasmani, ataupun digunakan sebagai alat untuk memulihkan kesehatan.
Calesthenic berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata Kallos yang artinya
indah, dan Stenos yang artinya kekuatan. Sedangkan: Tumbling atau akrobatik,
berasal dari kata: Tombolan (Bahasa Italia), tommelen (Bahasa Belanda), dan tomber
(Bahasa Perancis) yang artinya melompat, melenting dan mengguling (Depdikbud,
1978/1979).

b. Macam-macam Senam
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa dengan kemajuan ilmu dan teknologi dewasa ini tumbuh dan berkembang macam-macam bentuk gerakan senam, baik yang dilakukan di Indonesia maupun di negara-negara lain.



18


Dari bermacam-macam bentuk gerakan senam tersebut, yang akan diuraikan
dalam bab ini adalah macam-macam senam yang diajarkan di sekolah-sekolah
(khususnya di SD) yaitu: 1). Senam dasar
2). Senam irama
3). Senam ketangkasan

1) Senam Dasar
Senam dasar adalah berbagai bentuk dan ragam gerakan senam yang dilakukan orang terutama untuk latihan pembentukkan tubuh dan sering juga dilakukan sebagai latihan pendahuluan sebelum melakukan bentuk-bentuk gerakan yang pokok (inti latihan) atau sering juga dikatakan dengan latihan pemanasan badan pada setiap cabang olah raga.
a). Macam-macam Senam Dasar
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa pada senam dasar itu terdapat berbagai bentuk dan ragam gerakan. Namun bila kita kelompokkan dapat dijadikan atas tiga macam latihan yaitu:

(1). Latihan kelentukkan
Latihan kelentukkan adalah bentuk-bentuk latihan badan atau tubuh yang bertujuan agar badan atau tubuh kaku hingga mudah untuk digerakkan kesegala arah sesuai dengan yang diinginkan. Atau dengan kata lain agar badan menjadi lentur, mudah digerakan.
Latihan kelentukkan biasanya meliputi atas latihan peregangan atau
penguluran dan pelemasan otot, pelemasan persendian, dan pelepasan (setelah
melakukan gerakan otot-otot dan persendian dilepaskan).
(2). Latihan kekuatan
Latihan kekuatan bertujuan untuk melatih kekuatan otot, persendian, dan persarafan. Sedangkan latihan kecepatan bertujuan untuk melatih meningkatkan gerakan yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhannya. Latihan kekuatan dan kecepatan dapat dilakukan antara lain dengan jalan: Push-up, sit- up, back lift, squat jump, squat thrust, mendorong, menarik, mengangkat, jalan, lari dan melompat. Atau kombinasi dari gerakan-gerakan tersebut.



19




(3). Latihan keseimbangan
Latihan keseimbangan bertujuan untuk melatih badan agar keadaannya
seimbang. Latihan keseimbangan dapat dilakukan antara lain dengan memperkecil
bidang tumpuan. Misalnya berdiri dengan satu kaki. Unluk memperkecil bidang
tumpuan, maka tumit diangkat tinggi, berjalan di atas balok titian, dan sebagainya.
Selain latihan-latihan tersebut di atas, Senam Pagi Indonesia (SPI) dan senam
kesegaran jasmnai (SKJ) juga termasuk salah satu macam dari gerakan senam dasar.
b). Berbagai Bentuk Gerakan
Dalam senam dasar terdapat berbagai bentuk gerakan, yang dalam
pelaksanaannya sudah merupakan gabungan dari peregangan, pelemasan, kekuatan,
kecepatan, dan keseimbangan. Karena di dalam melakukan suatu bentuk latihan
akan menyangkut unsur-unsur tersebut di atas. Misalnya seperti bentuk latihan
togok. Kaki, lengan dan bahu pada setiap bentuk latihannya akan berkaitan juga
dengan unsure kekuatan, kelemasan, peregangan dan sebagainya. Sehubungan itu,
maka bentuk-bentuk gerakan senam dasar yang akan dikemukakan dalam penulisan
buku ini terutama yang erat kaitannya dengan pelajaran di Sekolah Dasar (SD).

2). Senam Irama
Senam irama adalah bentuk-bentuk gerakan senam yang merupakan perpaduan antara berbagai bentuk gerakan dengan irama yang mengiringinya. Misalnya seperti irama tepukan, ketukan, tambore, nyanyian, musik dan sebagainya. Keindahan bentuk-bentuk gerakan menciptakan variasi gerakan dan membentuk gerakan melalui koordinasi antara berbagai bentuk gerakan dengan irama merupakan tuntutan dalam senam irama.

3).Senam Ketangkasan / Senam Lantai
Senam ketangkasan adalah bentuk-bentuk gerakan senam yang harus dilakukan dengan kekuatan, kecepatan, ketepatan, kelentukkan, keberanian, dan kepercayaan diri dalam suatu rangkaian urutan gerak yang terpadu.
Senam ketangkasan sering dikatakan dengan senam pertandingan atau senam
artistik, karena bentuk-bentuk gerakannya harus sesuai dengan peraturan yang
berlaku dalam pertandingan baik mengenai sikap pada waktu akan melakukan



20


keindahan, dan ketepatan serta keseimbangan pada sikap akhirnya. Senam ketangkasan dapat dilakukan tanpa alat dan dengan alat. Senam ketangkasan yang dilakukan tanpa alat, dinamakan senam lantai (floor exercises), sedangkan senam ketangkasan dengan mempergunakan alat dinamakan senam alat.
Senam lantai pada umumnya disebut Floor exercise, tetapi ada juga yang
menamakan tumbling. Senam lantai adalah latihan senam yang dilakukan pada
matras, unsur-unsur gerakannya terdiri dari mengguling, melompat, meloncat,
berputar di udara, menumpu dengan tangan atau kaki untuk mempertahankan sikap
seimbang atau pada saat meloncat ke depan atau ke belakang. Bentuk-bentuk
latihannya juga merupakan gerakan dasar dari senam perkakas (alat). Di dalam
mempelajari / berlatih senam, seseorang tidak bisa langsung belajar / berlatih
gerakan-gerakan yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Untuk itu belajar /
berlatih senam harus diawali dari dasar atau tingkat yang mudah, baru kemudian semakin meningkat kea rah gerakan yang sukar (tingkat kesulitan tinggi).

a). Macam-macam Senam Ketangkasan
Seperti telah dikemukakan bahwa senam ketangkasan yang akan diuraikan di sini adalah senam lantai, yaitu bentuk-bentuk gerakan yang ditakukan di lantai yang beralaskan permadani atau matras (kasur yang terbuat dari karet busa) dan dilakukan tanpa memakai alat.
Di dalam senam ketangkasan tanpa alat terdapat bermacam-macam bentuk gerakan, baik yang dilakukan dengan lentingan dan putaran badan, maupun bentuk sikap keseimbangan. Sedangkan mudah atau sukarnya melakukan bentuk-bentuk gerakan tersebut, tergantung dari besar kecilnya unsur-unsur yang terdapat dalam bentuk gerakannya. Misalnya seperti kelemasan, kekuatan, kecepatan, ketepatan, keseimbangan, dan ketangkasan dari yang akan melakukannya. Adapun macammacam bentuk gerakan senam ketangkasan itu adalah:
(1). Berguling ke depan (roll depan).
(2). Berguling ke belakang (roll belakang).
(3). Lentingan badan dari sikap tidur (kip)
(4). Lentingan badan bertumpu pada pundak atau leher dan kedua, tangan
(roll kiplneck kip).



21




(5). Loncat harimau.
(6). Sikap lilin
(7). Keseimbangan kepala
(8). Kesimbangan tangan
(9) Sikap kayang
(10) Lentingan baclan bertumpu pada kepala dan kedua tangan (kop kip/head
spring)
(11) Lenting badan bertumpu pada kedua tangan (handspring/handstand
overslag)
(12). Meroda atau baling-baling (cart wheel).
(13). Round of
(14). Flic-flac atau back handspring
(15). Berguling di udara ke depan (salto/somersault)
(16). Berguling di udara ke belakang
(17). Loncat kelinci di atas peti lompat.
(18). Loncat tertutup di atas peti lompat
(19). Loncat terbuka di atas peti lompat
(20). Berguling ke depan, neck kip, kop kip, dan handspring di atas peti
lompat.
(21) Rangkaian gerakan berguling ke depan dan ke belak.ang
(22) Rangkaian bentuk-bentuk gerakan yang lain.
Dari bermacam-macam bentuk gerakan senam ketangkasan tersebut di atas yang berkaitan dengan pelajaran di SD adalah bentuk-bentuk gerakan mulai dari 1 -
13 dan dari 17 - 22.

d. Karakteristik Roll Depan
Untuk menghasilkan roll Depan yang baik, ada beberapa teknik yang harus diperhatikan, berikut adalah gerakan-gerakan yang harus diperhatikan ,menurut Aip Syarifudin dan Muhadi (1991 : 105)
1). Sikap permulaan :
Jongkok kedua kaki agak di buka, kedua tumit di angkat, kedua telapak tangan di letakkan pada matras, kedua tangan lurus sejajar bahu.



22



2). Gerakannya:
Angkat pinggul ke atas hingga kedua lutut lurus dan berat badan berada pada kedua tangan, sambil membengkokkan kedua sikut ke samping memasukkankepala ke antara dua tangan sampai seluruh pundak kena pada matras dan pinggul di dorong ke depan pelan-pelan.
Kemuadian teruskan badan berguling ke depan pada saat punggung terasa mengenai matras, segera kedua lutut di lipat dan kedua tangan memeluk lutut. Dengan demikian badan berguling ke depan bulat hingga jongkok kembali.

3). Sikap akhir:
Jongkok, Kedua tumit di angkat, kedua tangan lurus ke depan serong ke atas, kemudian berdiri tegak






Gambar 1. Teknik roll depan
(Aip Syarifudin dan Muhadi 1991 : 106)
Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh murid-murid SD pada waktu melakukan berguling ke Depan ,menurut Aip Syarifudin dan Muhadi (1991 : 106) antara lain adalah:
1) Tidak mengangkat pinggul ke atas sehingga kedua lutut tetap tertekuk.
2) Tidak membengkokkan siku ke samping tapi ke belakang, hingga sulit untuk memasukkan kepala ke antara keduatangan dan tidak membawa berat badan ke depan.
3) Sebelum seluruh pundak mengenai matras sudah melompat atau menolakkan kaki ke atas, akibatnya punggung jatuh ke matras
4) Pada waktu memasukkan kepala ke antara kedua tangan, pinggul tidak membantu mendorong badan ke depan, dan tangan tidak menahan.

3. Pembelajaran roll depan Senam Lantai Menggunakan Alat Bantu

Gerakan roll depan senam lantai banyak berhubungan dengan manipulasi
gerakan yang melibatkan tubuh sebagai alatnya. Hal tersebut berbeda dengan cabang
olahraga lainnya yang hanya memanipulasi alat seperti bola, pemukul atau alat lain



23


yang tidak melibatkan tubuh secara langsung. Oleh sebab itu dalam pembelajaran
senam lantai banyak memerlukan bantuan pada setiap tahapnya dari guru.
Dalam pembelajaran roll depan senam lantai dapat pula menggunakan
dengan alat bantu yang dapat dimodifikasi oleh guru supaya pembelajaran tersebut
dapat dikatakan berhasil.
Pembelajaran roll depan senam lantai menggunakan alat bantu yang dimodifikasi guru, misalnya :

1) Ban dalam sepeda motor
Pembelajaran roll depan senam lantai dengan ban dalam sepeda motor sebagai alat Bantu, merupakan bentuk pembelajaran yang pelaksanaannya dengan cara ban dalam tersebut dilingkarkan pada tubuh saat posisi awal hendak melakukan roll depan, yang mana ban dalam tersebut melingkar melewati pada telapak kaki dan leher bagian belakang / tengkuk. Penggunaan ban dalam sepeda motor ini bertujuan supaya posisi tubuh saat melakukan roll depan tetap melingkar sehingga gerakannya benar.







Gambar 2. Roll Depan menggunakan alat bantu ban dalam sepeda motor


2) Spon (berukuran 13x 15cm dan tebal 2cm)
Pembelajaran roll depan senam lantai dengan spon (berukuran 13 x 15cm
dan tebal 2cm), merupakan bentuk pembelajaran yang pelaksanaannya dengan cara
mengapit / menaruh spon di antara dagu dengan dada pada saat posisi awal akan



24


melakukan gerakan roll depan. Adapun kegunaan dalam pembelajaran roll depan senam lantai ialah supaya posisi dagu pada saat melakukan roll depan tetap menempel pada dada, dengan begitu siswa gerakannya benar.








Gambar 3. Bentuk spon dan cara pemakaiannya









Gambar 4. Roll depan menggunakan alat Bantu spon


3) Matras miring
Pembelajaran roll depan senam lantai dengan matras miring sudutnya 20° dan 10°, merupakan bentuk pembelajaran yang pelaksanaannya dengan cara matras ditempatkan pada bidang miring.
Kelebihan pembelajaran roll depan senam lantai dengan menggunakan matras miring adalah siswa tertarik melakukan roll depan karena lebih mudah melakukannya karena matras miring, berarti mengurangi tekakan dan dorongan saat melakukan roll.



25












Gambar 5. Roll depan menggunakan matras miring


B. Kerangka Pemikiran

Pembelajaran roll depan senam lantai dengan menggunakan alat bantu merupakan bentuk pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan gerak siswa. Dengan menggunakan alat bantu siswa lebih termotifasi dan terbantu dalam melakukan gerakan roll depan, serta aspek-aspek yang terdapat pada diri siswa dapat dikembangkan.
Aspek pembelajaran roll depan senam lantai dengan menggunakan alat bantu yaitu : supaya siswa termotifasi melakukan gerakan, untuk mempermudah siswa dalam pembelajaran, untuk mengembangkan skill, merangsang kemampuan berfikir, dan untuk menimbulkan/meningkatkan rasa berani siswa dalam melakukan gerakan. Dengan menggunakan alat bantu pada pembelajaran roll depan senam lantai diharapkan siswa sangat terbantu dan mempermudah melakukan roll depan dan termotifasi, karena alat bantu seperti ban dalam sepeda motor yang di lingkarkan pada tubuh posisi awal, spon yang di apitkan antara dagu dan dada, serta matras yang di buat miring akan lebih berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Dengan adanya model pembelajaran yang baru dan lebih mudah untuk dilaksanakan oleh siswa, jadi siswa lebih tertarik untuk melakukan roll depan dan siswa paling tidak berkurang rasa takutnya melakukan roll depan.
Berkaitan dengan permasalahan dalam penelitiani ini, alur kerangka pemikiran dalam penelitian ini secara skematis sebagai berikut:



26











Kondisi awal












Tindakan






Guru:
kurang kreatif &
inovatif dalam
mengajar
pelajaran Roll
depan senam
lantai.





Meningkatkan
penguasaan Roll
depan senam lantai
menggunakan alat
bantu.







Siswa:
siswa kurang tertarik & cepat bosan dengan
model pembelajaran Roll
depan senam lantai.





Siklus I:
guru & peneliti menyusun bentuk alat bantu dan modifikasi untuk
pembelajaran Roll depan senam lantai dengan
menggunakan ban dalam
sepeda motor dan spon
sebagai alat bantu dalam
melakukan Roll depan
bertujuan mempermudah dan
meningkatkan kemampuan
siswa.


Melalui pendekatan Siklus II:

Kondisi akhir bermain dengan alat upaya perbaikan dari
modifikasi belajar siswa tindakan dari siklus I dengan
terhadap pembelajaran menambah alat bantu yaitu
lompat jauh gaya memodifikasi matras menjadi
jongkok meningkat miring dengan sudut 20º dan
10º sehingga dapat berhasil
meningkatkan kemampuan
siswa dalam pembelajaran
Roll depan senam lantai.




Gambar 6. Alur Kerangka Berfikir



27




C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan Kajian Pustaka dan Kerangka Pikir yang telah dikemukakan di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
Pendekatan pembelajaran roll depan senam lantai dengan alat bantu memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar pada siswa kelas V SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri.



28




BAB III
METODE PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu


1.Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri tahun pelajaran 2011/2012.


2.Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan 5 minggu

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri tahun pelajaran 2011/2012. Keseluruhan siswa kelas V SD Negeri Sumberejo II Jatisrono Wonogiri tahun pelajaran 2011/2012 dijadikan subjek
penelitian. Jumlah subjek dalam penelitian yaitu 18 orang yang terbagi atas: 10 orang berjenis kelamin laki-laki dan 8 orang berjenis kelamin perempuan.

C. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan pengamatan guru
serta tes kemampuan roll depan yang mengacu pada FIG (Federation
Internasional De Gymnastique) 2007. Petunjuk pelaksanaan tes terlampir.



29





D. Teknik Analisis Data

Tingkat kemampuan roll depan siswa dapat diketahui dengan membandingkan hasil observasi dan pengamatan guru serta hasil tes roll depan siswa sebelum menggunakan alat bantu dan sesudah menggunakan alat bantu dalam pembelajaran.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian adalah langkah - langkah yang harus dilalui oleh
peneliti dalam menerapkan metode yang akan digunakan dalam penelitian. Langkah selanjutnya adalah menentukan banyaknya tindakan yang dilakukan dalam setiap siklus. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan tindakan yang berlangsung secara terus menerus kepada subjek penelitian.
Langkah - langkah PTK secara prosedurnya dilaksanakan secara
partisipatif atau kolaboratif antara ( guru dengan tim lainya ) bekerjasama, mulai
dari tahap orientasi hingga penyusunan rencana tindakan dalam siklus pertama,
diskusi yang bersifat analitik, kemudian dilanjutkan dengan refleksi - efaluatif atas
kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama, untuk kemudian mempersiapkan
rencana modifikasi, koreksi, atau pembetulan, dan penyempurnaan pada siklus
berikutnya.
Untuk memperoleh hasil penelitian tindakan seperti yang diharapkan, prosedur penelitian secara keseluruhan meliputi tahap - tahap sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan Survey Awal
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengobservasi sekolah atau kelas yang akan dijadikan sebagai tempat Penelitian Tindakan Kelas. Meninjau sejauh mana pelaksanaan pembelajaran roll depan senam lantai diterapkan dalam sekolah tersebut.
2. Tahap Seleksi Informan, Penyiapan Instrumen, dan Alat
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, adalah :
a. Menentukan subjek penelitian



30




b. Menyiapkan metode dan instrument penelitian serta evaluasi
3. Tahap Pengumpulan Data dan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan tabulasi data penelitian yang terdiri atas :
a. Kepuasan siswa terhadap proses pembelajaran
b. Pelaksanaan pembelajaran
c. Semangat dan keaktifan siswa
d. Nilai roll depan siswa
4. Tahap Analisis Data
Dalam tahap ini analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik analisis tersebut dilakukan karena data yang terkumpul berupa uraian diskrptif tentang perkembangan belajar serta hasil test keterampilan roll depan senam lantai. Serta hasil test ketangkasan roll depan siswa yang dideskriptifkan melalui hasil kualitatif
5. Tahap Penyusunan Laporan
Pada tahap ini disusun laporan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas dari mulai awal survey hingga menganalisis data yang dilakukan dalam penelitian


F. Proses Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 langkah, terdiri dari :
1. Planning (merencanakan bentuk-bentuk pembelajaran roll depan dengan
alat bantu)
2. Acting (memberi pembelajaran dengan menggunakan alat bantu untuk
mengoptimalkan roll depan sebelum menggunakan alat bantu dan setelah
menggunakan alat bantu).
3. Observasi (melakukan tes dan penilaian dalam olahraga yaitu menggunakan
Code Of Point, apakah siswa dalam melakukan Roll depan lebih optimal
setelah mendapat pembelajaran dengan menggunakan alat bantu).



31


4. Reflecting (menyimpulkan lebih optimal tidaknya roll depan siswa setelah
mendapat pembelajaran dengan menggunakan alat bantu dengan
membandingkan kondisi awal sebelum diberi pembelajaran menggunakan
alat bantu dan setelah menggunakan alat bantu ).

Siklus I Siklus II


Plan Revised Plan dst



Reflect Act Reflect Act





Observe Observe



Gambar 7 : Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
(Kemmis & Taggart dalam Rochiati Wiriaatmadja, 2006: 66)


{ 2 komentar... read them below or add one }

sainal husain mengatakan...

salam.....
ada gak file dalam bentuk word yang bisa di download contoh skripsi ini,,???? thx

portablenan mengatakan...

ngawur... iki duwekku yo buat beckupan malah di download

Poskan Komentar

 
ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Ping your blog, website, or RSS feed for Free